Home News & Info Kolom Guru Kecerdasan Kolektif

Kecerdasan Kolektif

148
0
SHARE

LIMA tahun lalu kami mengajari kambing-kambing kami jenis peranakan etawa (PE) untuk belajar minum dari instrumen yang canggih. Mereka harus menekan dengan lidahnya batang besi kecil di tengah pipa supaya air keluar. Tentu sulit sekali awalnya, tetapi ketika salah satu dari mereka bisa – maka yang lainpun segera bisa. Kini lima tahun kemudian, generasi demi generasi kambing berganti – tetapi semua bisa minum dari instrumen tersebut tanpa harus kami ajari lagi. Siapa yang mengajari mereka ? Itulah yang disebut kecerdasan kolektif.

Kecerdasan kolektif adalah buah dari kolaborasi , upaya kolektif maupun perlombaan individu dalam sekelompok makhluk hidup dalam merespon situasi yang dihadapinya. Kecerdasan kolektif ini ada tentu saja di manusia, tetapi juga ada di hampir seluruh jenis binatang bahkan sampai bakteri sekalipun. Bila kita pahami bagaimana kecerdasan kolektif ini bekerja, banyak hal bisa kita lakukan untuk memperbaiki kwalitas kehidupan kita ini.

Untuk contoh kambing PE kami tersebut di atas misalnya, beberapa hari mengajari mereka minum dari stainless nipple tersebut di atas – membuahkan generasi kambing selanjutnya yang paham dimana mereka bisa memperoleh minumnya.

Karena mereka minum dari tempat yang dibuat secara tertutup dan otomatis, maka kesehatannya bisa dijaga dan bahkan bila dikehendaki obat atau vitamin untuk mereka bisa disampaikan lewat air minum ini.

Lebih dari itu mereka juga menjadi guru bagi sesamanya. Ketika ada kambing PE baru yang kami beli dari daerah dan dibawa ke kandang kami, sudah bukan kami lagi yang harus mengajari mereka. Tinggal digabungkan dengan kambing-kambing yang sudah paham dimana tempat mereka minum, maka kambing baru inipun segera tahu dimana tempat minumnya dan bagaimana cara meminumnya. Kambing lebih mudah belajar dari sesama kambing langsung ketimbang belajar dari manusia!

Dari waktu ke waktu tentu ada kambing yang harus dijual atau disembelih, tetapi karena kecerdasan kolektif ini milik bersama – maka dia tetap ada bersama dengan kambing-kambing yang tinggal untuk terus diwariskan ke kambing-kambing yang lahir baru maupun kambing-kambing yang didatangkan dari luar.

Domba jauh lebih cerdas dari kambing, bahkan dalam suatu riset dikatakan bahwa kecerdasan domba hanya kalah dari simpanse, gajah dan lumba-lumba. Kita sudah sering melihat bagaimana simpanse, gajah maupun lumba-lumba beraksi dengan kecerdasannya. Tetapi rata-rata kita belum pernah menyaksikan bagaimana domba beraksi dengan kecerdasannya. Mengapa ? Ya karena belum kita latih saja.

Yang kita maksudkan kecerdasan untuk domba tentu bukan berarti akan bisa menyelesaikan soal-soal matematika yang rumit, tetapi sekedar mengingat tugas-tugas atau tanda-tanda spesifik. Konon domba adalah binatang yang paling baik ingatannya, dia bisa mengingat wajah penggembalanya, mengingat jalur perjalanan pulang ke kandangnya, ingat siapa yang memimpin perjalanannya dan insyaAllah dia juga akan ingat mana-mana batas yang boleh dimakan dan tidak, batas wilayah yang boleh dilalui dan tidak. Dua hal terakhir ini yang sedang kami coba untuk mengajarkannya dalam program yang kami sebut penggembalaan presisi.

Barangkali timbul pertanyaan di Anda, lho domba-domba ini kan akan dijual atau disembelih dalam beberapa bulan kedepan, paling lama dua tahun? Lantas apa gunanya mereka sekarang belajar sesuatu yang rumit bagi mereka sendiri ? Di situlah rahasia dari kecerdasan kolektif itu, bagi individu domba tertentu bisa jadi dia tidak terlalu penting – tetapi secara kolektif menjadi sangat penting.

Dalam usianya yang pendek, domba-domba tersebut tetap bisa menjadi penyambung pesan bagi domba-domba yang lain – bahwa yang dalam batas ini tidak boleh dimakan, bahwa diluar tanda ini tidak boleh dilalui dlsb. Pesan-pesan yang mudah diingat oleh generasi domba-domba berikutnya maupun domba-domba baru yang dimasukkan ke kelompok yang sudah ‘terdidik’ ini.

Betapapun pendek usia mereka, secara kolektif mereka membawa pesan untuk generasi selanjutnya untuk menjadi lebih cerdas, lebih mudah digembalakan – bahkan ditempat sulit sekalipun seperti di jalur hijau ditengah jalan tol, di pinggir rel kereta api dst.

Dari sini pelajaran itupun kembali ke kita bangsa manusia. Usia kita yang lebih panjang dari hewan-hewan tersebut, kecerdasan kitapun jauh lebih tinggi dari mereka. Tetapi sudahkan keberadaan kita ini membawa pesan-pesan untuk kehidupan yang lebih baik bagi generasi yang akan datang ? Atau sebaliknya kita merusak mereka dengan pesan-pesan yang memang tidak mendidik?
Apa yang kira-kira kita ajarkan pada anak cucu kita kedepan? Korupsi yang turun temurun dan makin mewabah? Fitnah-memfitnah, caci-mencaci dalam politik a la demokrasi? Pengelolaan alam yang sembrono yang menimbulkan musibah disana sini? Kekerasan demi kekerasan yang menjadi tontonan sehari-hari di televisi?

Bila seperti ini yang berlanjut, maka keberadaan kita tidak membawa pesan kecerdasan kolektif bagi anak cucu kita. Malah sebaliknya keberadaan kita hanya membawa pesan kejahatan dan kerusakan kolektif bagi mereka.

Maka sebelum semuanya menjadi terlambat, kini waktunya bagi kita untuk memulai menyampaikan pesan berantai yang akan membentuk kecerdasan dan kebaikan kolektif ini. Bukan hanya pesan dengan kata-kata, tetapi dengan perbuatan – agar menjadi mudah untuk ditiru dan disempurnakan.

Di antara pesan-pesan tersebut adalah bahwa – apapun yang dialami umat ini saat ini, kita tidak  perlu merasa lemah dan bersedih karena umat ini adalah umat tertinggi bila kita benar-benar beriman (QS 3 : 139). Yang kita butuhkan untuk (kembali) menjadi umat tertinggi ini adalah kita harus menggunakan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan nasihatNya (QS 3:138) untuk segala urusan kita (QS 16:89).

Bumi masih akan makmur sekali lagi ditangan kaum Muslimin sebagaimana kabar nubuwahyang disampaikan oleh junjungan kita nabi akhir jaman Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnya tetapi dia idak mendapatkan seorangpun yang bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai.” (HR: Muslim).

Kepemimpinan di dunia-pun masih akan akan sekali lagi bergilir ke tangan kaum muslimin sebagaimana hadits : “Adalah masa Kenabian itu ada di tengah tengah kamu sekalian, adanya atas kehendaki Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya (menghentikannya) apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menggigit (Mulkan ‘Adldlon), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang memaksa (Mulkan Jabariyah), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah).” Kemudian beliau (Nabi) diam.” (HR.Ahmad).

Maka bisa jadi kita sekarang hidup dalam situasi yang kita tidak sukai – karena memang kita sedang dalam kekuasaan ‘raja-raja’ yang memaksa atau mulkan jabariyah. Entah berapa lama dan berapa generasipun ini harus kita lalui – sejauh pesan-pesan kecerdasan dan kebaikan kolektif yang kita teruskan ke anak dan cucu kita, maka insyaAllah pada waktunya nanti akan datang kembali kejayaan umat ini.

Kejayaan umat yang mirip dengan eranya Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali  – yang semoga Allah ridlo kepada mereka semua – kejayaan umat yang dalam hadits tersebut di atas disebut Khilafah ‘ala minhajin nubuwah. Untuk perjalanan sampai kesana, generasi sesudah kita harus lebih baik dari kita dan untuk saat ini peran itu adanya pada diri kita. Bila pesan-pesan kebaikan yang kita sampaikan, insyaAllah akan menghasilkan kebaikan dan begitu pula sebaliknya.

Maka saat inilah waktunya kita mulai memainkan peran  untuk membangun generasi yang secara kolektif lebih baik. Generasi yang lebih paham dan lebih dekat dalam pengamalan petunjuk-petunjukNya dan sunnah-sunnah nabiNya. Generasi yang akan kembali memakmurkan bumi menjadi semakmur-makmurnya, dan sekaligus juga generasi yang akan bener-bener menjadi khalifah di muka bumi ini. InsyaAllah.*

Oleh: Muhaimin Iqbal Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here