Home News & Info Artikel Smart Parenting

Smart Parenting

171
0
SHARE
Pengertian Smart Parenting
Smart Parenting adalah keseluruhan yang dapat orangtua lakukan, hal-hal baik yang besar maupun yang kecil, hari demi hari, yang dapat menciptakan keseimbangan lebih sehat dalam rumah tangga dan hubungan dengan anak-anak. Tindakan orangtua harus menekankan pentingnya perasaan dan membantu orangtua dan anak-anak mengatasi serangkaian emosi dengan pengendalian diri. Kehilangan pengendalian diri dapat berarti bahwa mereka (anak-anak) akan kehilangan uang saku, kehilangan kesempatan mengikuti kegiatan mentoring atau ekstrakurikuler, kehilangan peluang kerja atau bahkan mereka harus ditempatkan di sekolah khusus. Anak-anak membutuhkan keterampilan-keterampilan untuk tumbuh dalam lingkungan positif penuh perhatian dan kaya akan peluang.
Smart Parenting membantu mewujudkan lingkungan seperti itu, bukan penanganan parsial untuk mengatur anak-anak maupun menjadi orangtua dengan prinsip-prinsip luas tanpa petunjuk bagaimana menerapkannya. Strategi untuk membangun Smart Parenting harus menggunakan kelima prinsip dasar yang akan dibahas selanjutnya secara bersamaan. Prinsip-prinsip dasar bertujuan untuk mengembangkan sebuah atmosfir keluarga yang sehat dan konstruktif sehingga tujuan-tujuan orangtua dan anak bisa diwujudkan secara sempurna. Lebih baik menerapkan beberapa prinsip dengan konsisten, daripada bernafsu mencoba semuanya sekaligus.
II.                Prinsip-prinsip Yang Mendasari Smart Parenting
Satu rahasia Smart Parenting adalah bahwa apa yang baik bagi orangtua juga baik bagi anak-anak. Pengantar ini memperkenalkan lima prinsip smart parenting sebagai pondasi dalam membangun sebuah keluarga yang bijak.
Prinsip pertama : Menyadari Perasaan Diri Sendiri dan Orang lain
Perasaan merupakan sesuatu yang sulit dipahami. Pada umumnya, anak yang bermasalah dalam perilaku juga mengalami kesulitan memberi label pada perasaannya dengan tepat. Mereka tidak dapat membedakan jengkel dan marah, kecewa dan sedih, bangga dan senang dan lain-lain. Kesadaran akan perasaan orang lain sangat penting, karena dengan mengetahui perasaan orang lain, dia akan berkesempatan memiliki interaksi positif dengan mereka, termasuk kadang-kadang, untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Dalam contoh, siswa yang mampu memahami perasaan gurunya mungkin akan mendapatkan keringanan ketika terlambat menyerahkan tugas, bantuan tambahan, bahkan mungkin nilai baik dibandingkan teman-temannya yang pandai tapi tidak memiliki kepekaan perasaan seperti dirinya.
Prinsip kedua : Menunjukkan Empati dan Memahami Perspektif Orang Lain
Empati merupakan kemampuan menyelami perasaan orang lain. Memahami perasaan orang lain adalah bagian penting pengembangan kepekaan terhadap sesama, sebuah istilah yang tidak baru lagi. Untuk mengetahui perasaan orang lain dan berempati dengannya, seseorang harus mampu membaca perasaan tersebut. Tidak saja diperlukan kemampuan mendengarkan dengan seksama, tetapi juga membaca isyarat-isyarat nonverbal. Sering bahasa tubuh dan tekanan suara mengungkapkan emosi kita dengan lebih efektif daripada kata-kata.
      Kemampuan berempati sangat diperlukan orang tua dalam menghadapi anak-anak dan vital bagi anak-anak untuk belajar berempati sebagai keterampilan sosial positif, belum lagi bahwa kemampuan berempati secara umum membuat seseorang lebih baik beradaptasi secara emosional dan lebih sukses, terutama dalam hubungan cinta.
      Di samping memberikan teladan, orangtua juga harus menjelaskan perilaku dan perasaan mereka sehingga anak-anak dapat memahami dengan lebih baik “darimana mereka berasal” dan tidak mengansumsikan mereka berasal dari tempat yang sama seperti tokoh-tokoh televise atau film.
Prinsip ketiga : Mengelola Gejolak Emosional dan Perilaku Secara Bijak.
Tanpa kemampuan untuk menunda kepuasan, pada akhirnya kita harus menerima kurang dari yang mungkin mestinya kita dapatkan. Jika kita bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu, maka kita akan cenderung mendapatkan lebih serta kepuasan karena telah mengusahakannya. Aspek lain dari pengendalian diri adalah kemampuan untuk membatasi reaksi emosional terhadap situasi, baik reaksi itu positif maupun reaksi negatif.
Mengajarkan dan mempraktekkan pengendalian diri memang sulit, tetapi jika diusahakan akan membantu memecahkan banyak masalah keluarga. Mengatasi perilaku implusif jelas sangat penting. Respon perilaku naluriah kita terhadap konflik sering tidak efektif dalam mengatasi masalah-masalah semacam itu. Sebagai manusia, kita dibekali respon hadapi atau lari (fight or flight) terhadap situasi-situasi bermasalah. Kita harus memanfaatkan apa yang kita ketahui tentang perasaan dan perspektif kita sendiri dan orang lain untuk membantu kita mengendalikan diri dan berpikir jauh ke depan.
Prinsip keempat : Berorietasi pada Tujuan dan Rencana Positif.
Salah satu elemen terpenting menjadi seorang manusia (orang tua) adalah bahwa kita dapat menetapkan tujuan dan membuat rencana untuk mencapai tujuan tersebut. Semua yang dilakukan orang tua dan anak-anak haruslah berorientasi pada sebuah tujuan tertentu.
Teori kecerdasan emosional menyatakan bahwa hal ini memiliki implikasi penting. Pertama ,kita harus mengakui kekuatan ampuh optimism dan harapan. Kedua, kita tahu bahwa dalam berusaha mencapai tujuan, ada waktu-waktu kita lebih efektif atau kurang efektif. Bagian penting smart parenting adalah untuk menyadari waktu-waktu ini dalam diri kita dan anak-anak kita dan untuk bekerja selaras, bukan melawan, irama semacam ini sesering mungkin. Terakhir, sebagai orang tua sebaiknya kita memperbaiki cara kita dalam penetapan dan perencanaan tujuan dan bagaimana kita menghendaki anak-anak kita akan melakukannya.
Prinsip kelima : Memanfaatkan Kecakapan Sosial dalam Segala Macam Hubungan.
Disamping memiliki kesadaran akan perasaan, kendali diri, orientasi tujuan dan empati, kemampuan berhubungan secara efektif dengan orang lain juga. Ia memerlukan kecakapan sosial seperti komunikasi dan pemecahan masalah. Keterampilan lain yang diperlukan adalah kemampuan menjadi bagian dari suatu kelompok.
Orangtua menginginkan keluarga berfungsi baik sebagai suatu kelompok. Orangtua menginginkan anak-anak memiliki keterampilan yang berguna bagi kelompok-kelompok di sekolah, lingkungan kerja atau dalam kehidupan bermasyarakat. Belajar dengan mendengarkan orang lain dengan cermat, bergiliran, menyelaraskan berbagai perasaan berbeda, berkompromi, membuat kesepakatan dan menyatakan gagasan denga jelas merupakan beberapa keterampilan sosial yang membantu orangtua dan anak dalam keluarga berfungsi lebih baik di sebuah kelompok. Keterampilan sosial lain yang penting termasuk kemampuan menyelesaikan persoalan antar pribadi dan membuat pilihan-pilihan tepat, penuh pertimbangan dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
III.             Tiga Belas Kesalahan Dalam Mendidik Anak
Kesalahan dalam mendidik anak, orang tua harus selalu berhati-hati menghadapi anak yang masing-masing tak dapat digeneralisasikan tapi sevcara garis besar orang tua diharapkan waspada terhadap 13 kesalahan dalam mendidik anak yakni :
Ø  Terlalu banyak berkata “ jangan “
Seorang anak mendengar komando “jangan” dalam setiap gerakannya akan merasa kesal dan sangat boleh jadi ia akan menjadi pasif, tak punya kereatifitas, dia akan mengagap bahwa ibu atau bapaknya menggangu kesenangannya untuk mengalihkannya sebaiknya gantilah dengan kata “ayo” dan alihkanlah pada hal lain yang mungkin lebih menarik.
Ø  Berkelahi dengan anak
Banyak orang tua bersifat ngotot dank eras dihadapan anak-anaknya. Hal ini menjadikan anak menganggap bahwa orang tuanya adalah saingannya bukan orang tempat berlindung. Anak-anak yang dipaksa akan mempunyai sifat pendedam, selalu menanti saat kapan ia bebas dari keluarga. Mendidik dengan kasih saying lebih berhasil dari pada dengan kekerasan
Ø  Menghina anak-anak
Jika cita-cita maupun keinginan, bakat dan hasil karya dihina ataupun dicemohkan, kemungkinan besar anak-anak itu akan menjadi tidak percaya diri dan selalu canggung dalam tindakannya. Disini orang tua harus selalu membangun kepercayaan diri pada anak-anaknya.
Ø  Menakut-nakuti anak dan mengancap anak
Penuturan karena ditakut-takuti merupakan perbudakan. Begitu juga mengancam seorang anak supaya mau bekerja dengan hukuman sangatlah tidak bijaksana. Kemungkinan anak menjadi jengkel dan ia akan mengambil pilihan dihukum dari pada mengerjakan pekerjaan yang berat itu.
Ø  Orang tua berbicara terlampau banyak
Berbicara nonstop akan membosankan dan kemungkinan anak tak dapat mencerna mana pokok yang harus ia dengarkan dan mana pokok yang harus ia camkan.
Ø  Berbicara terlalu keras
Hindarkanlah berbicara yang menimbulkan kesan bengis dan kesan membentak-bentak. Ucapan yang lirih dan tegas akan lebih berhasil dari pada suara yang kaku membentak-bentak.
Ø  Mematahkan kemauan anak
Janganlah memtahkan kemauan anak. Orang tua harus membantu anak-anak dalam memiliki kemauan, kemauan harus dipupuk dan disalurkan ke hal-hal yang positif.
Ø  Mengatakan pada anak bahwa ia jahat
Jika anak mendengar orang tuanya mengatakan ia jahat, maka anak akan bertanya dan akan menilai dirinya seperti apa yang dikatak orang tuanya dan akan cenderung berbuat seperti apa yang dikatakan orang tuanya. Katakanlah bahwa ia adalah anak-anak yang patuh, baik dan berikanlah serta arahkanlah pada pemikiran dan contoh-contoh yang positif.
Ø   Membicarakan karakter anak dihadapan orang banyak
Tidaklah bijaksana orangtua membicarakan karakter anak di depan orang banyak. Seorang anak akan merasa dihina jika kesalahannya dibicarakan, apalagi jika ia hadir di situ. Keburukan yang dibicarakan akan menimbulkan sakit hati dan dendam. Kalau kebaikan-kebaikan yang dibicarakan, anak-anak menjadi sombong dan merasa sudah cukup dan tak perlu ia perbaiki lagi.
Ø  Menghukum anak dengan menyuruh dia bekerja
Suatu pekerjaan yang diusahakan agar digemari oleh anak-anak, jangan dijadikan sebagai hukuman atas kesalahan-kesalahan yang ia lakukan. Jadikan lah sesuatu yang baik dan berguna menjadi kegemaran anak seperti menyapu, mencuci piring.
Ø  Memberi uang anak untuk foya-foya
Pemberian uang ekstra oleh orangtua banyak membawa akibat buruk bagi anak-anak di bawah umur, seperti baru-baru ini telah beredarnya minuman keras yang dikemas dalam plastic yang harganya dapat dijangkau oleh anak-anak. Berikan anak-anak uang sesuai dengan kebutuhan yang mutlak baginya.
Ø  Menuruti semua kemauan anak
Menuruti segala keinginan anak akan menjadikan ia manja, sesudah dewasa sukar mengontrol diri, karena terbiasa semua keinginannya dipenuhi. Anak semacam ini akan gampang putus asa jika rencananya gagal, ia menjadi kurang tabah dan kurang sabar dalam menghadapi berbagai percobaan.
Ø  Tidak melatih anak bekerja
Banyak orangtua yang khawatir jika anaknya bekerja nanti kulitnya akan menjadi kasar dan sebagainya. Anak yang tidak dilatih bekerja akan menjadi malas, tidak bertanggung jawab, serta menjadi orang yang tak tahu bekerja. Anak-anak yang terbiasa bertanggung jawab di rumah akan dapat bertanggung jawab di luar rumah.
IV.             Pola Asuh Dalam Membangun Smart Parenting
Smart parenting (pendidikan cerdas) merupakan suatu pola asuh yang dinamis sesuai dengan kemampuan anak dan tingkat tumbuh kembangnya (Nada, 2008). Dimana pola asuh yang dimaksud ada beberapa tipe yaitu pola asuh authoritarian (otoriter), pola asuh authoritative (demokratis), dan pola asuh permisif (Hasan, 2009).
1.      Pola Asuh Authoritarian (otoriter)
Pola asuh authoritarian adalah bentuk pola asuh yang menekankan pada pengawasan orangtua atau kontrol yang ditujukan kepada anak untuk mendapatkan ketaatan dan kepatuhan. Perilaku orangtua dalam berinteraksi dengan anak bercirikan tegas, suka menghukum, anak dipaksa patuh terhadap peraturan-peraturan yang diberikan oleh orangtua dan cenderung mengekang anak. Segi positif dalam pola asuh otoriter ini yaitu bahwa anak yang dididik akan cenderung menjadi disiplin mentaati peraturan.
2.      Pola Asuh Authoritative (demokratis)
Pola demokratis bercirikan adanya hak dan kewajiban orangtua dan anak adalah sama dalam arti saling melengkapi, anak dilatih untuk bertanggung jawab dan menentukan perilakunya sendiri agar dapat berdisiplin. Orangtua banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk berbuat keputusan secara bebas, berkomunikasi dengan lebih baik, mendukung anak untuk memiliki kebebasan sehingga anak mempunyai kepuasan, dan sedikit menggunakan hukuman badan untuk mengembangkan disiplin. Dalam pola asuh ini anak akan menjadi seorang individu yang mempercayai orang, bertangung jawab terhadap tindakan-tindakannya, tidak munafik, jujur.
3.      Pola Asuh Permisif
Pola asuh permisif merupakan bentuk pengasuhan dimana orangtua member kebebasan sebanyak mungkin pada anak untuk mengatur dirinya, anak tidak dituntut untuk bertanggung jawab dan tidak banyak dikontrol oleh orangtua. Orangtua memandang anak sebagai seorang pribadi dan mendorong mereka untuk tidak berdisiplin dan anak diperbolehkan untuk mengatur tingkah lakunya sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here